Bookmark and Share

BERITA

Belajar Pengelolaan Sampah di Salakan Bersemi Bantul

07 Agustus 2019, 10:57:53 - Berita - Hits : 93 - Posted by shodiq
Belajar Pengelolaan Sampah  di Salakan Bersemi Bantul

P3ejawa.menlhk.go.id, Bantul. Sampah menjadi persoalan serius yang dihadapi semua kota di Indonesia. Bahkan sampah, khususnya sampah plastik, belakangan ini menjadi persoalan global dan mendapat perhatian serius dunia, termasuk pemerintah Indonesia. Sinergi berbagai elemen dan network/jejaring sangat dibutuhkan dalam menangani masalah sampah yang semakin kompleks dan mengkhawatirkan itu.
Demikian benang merah kegiatan sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang digagas Pusat pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3E Jawa), Selasa, 6/8/19. Kegiatan yang  dikemas dalam bentuk kerja sama kemitraan dengan Komunitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup ini berlangsung di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS 3R) KSM Salakan  Bersemi, Dusun Salakan Potorono Banguntapan, Bantul.
Kegiatan ini dibuka Kepala Pusat Pengendalian Ekoregion Jawa Ir.Edy Subagyo, MP, diikuti lima komunitas, yaitu  Bina Cinta Alam  KSDAE, Komunitas Jogya Muslimah Preneurship Sleman, Komunitas Konservasi Air Embung Kaliaji Widuri, Komunitas Pengelola Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran,  dan Kelompok Konsumen Sadar Yogyakarta.
Tampil sebagai pemateri Dr. Bambang Suwerda,SST, M.Si pendiri Bank Sampah Gema Ripah Bantul yang membawa materi tentang Pengelolaan Sampah Melalui 3R. Pemateri lain adalah  Jumali, pendiri TPS 3R KSM Salakan Bersemi Bantul, dengan materi Pengomposan dan Pembuatan Pupuk Cair.

Sampah Persoalan Serius
Dalam sambutannya, Edy menekankan pentingnya persoalan sampah ini ditangani secara serius. Lima tahun terahir, kata Edy, sampah menjadi persoalan serius nasional, khususnya sampah plastik. “Indonesia penghasil sampah plastik nomor dua dunia. Lewat kegiatan ini kita dapat mengurangi kegiatan yang menghasilkan sampah,” ujar Edy.  
Tujuan kegiatan ini, tambah Edy, bagaimana kita mereduksi sampah dari aktifitas kita setiap hari. Karena itu, ia berharap, kegiatan ini bermanfaat dan dapat ditularkan pada komunitas lain dalam masyarakat.
Beberapa waktu lalu, kata Edy, Komisi VII DPR RI yang membidangi urusan linkungan hidup, mengunjungi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Piyungan, Yogyakarta yang saat ini kondisinya memprihatinkan.
“Untuk itu bagaimana kita mereduksi sampah dari hulunya, sehingga tidak semua sampah itu berakhir di TPA,” ujar Edy.

Sementara itu, Bambang Suwerda dalam paparannya, menekankan pentingnya network atau jejaring dalam mengurusi masalah sampah. Menurutnya, sampah tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri tanpa melibatkan orang lain atau komunitas lain untuk bahu membahu menangani sampah. Oleh karena itu,  salah satu kunci keberhasilan penanganan sampah itu adalah network atau jejaring.
Bambang prihatin, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang membakar dan membuang sampah sembarangan. “Kemarin, saya baru pulang dari Kalimantan. Yang menariknya, di sana TPA sudah dikembangkan sebagai tempat wisata yang menarik. Bahkan mandi air panas menggunakan energi dari sampah. Saya berharap suatu saat TPA Piyungan kita dapat menjadi tempat wisata menarik,” katanya.

Mudah dipahami Masyarakat
Menurut Bambang, saat ini masyarakat awam masih binggung dan tidak begitu tertarik mengelolah sampah lantaran istilah yang dipakai susah dipahami masyarakat biasa. Sebagai contoh, istilah sampah organik dan anorganik atau 3R (Reuse, Reduce, Recycle).

Oleh karena itu, Bambang membagikan tips agar orang tertarik menangani sampah. Misalnya, mengganti kata reduce dengan kata mengurangi. Intinya gunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat awam.

“Misalnya, Sampah layak kreasi, layak jual, layak kompos. Sisanya baru yg dibuang ke TPA. Kalau organik dan anorganik masyarakat awal masih binggung,” kritik Bambang.

Mencermati minimnya pemahaman publik tentang Bank Sampah, Bambang mengaku kalau persepsi orang tentang Bank Sampah masih negatif. Padahal, kata Bambang, konsep dasar pengelolaan bank sampah, yaiu mengurangi sampah, memilah sampah, memanfaatkan sampah, mendaur ulang sampah, dan menabung sampah.  

“Sampah memberi pelajaran pada kita maka jadilah Bank Sampah bukan bak sampah. Sampah layak tabung dan sampah tidak layak tabung. Yang layak tabung ke bank sampah yang tidak ke bak sampah,” ujarnya.  

Kegiatan sosialiasi ini mendapat tanggapan positip peserta. Patila (58) salah seorang peserta kegiatan asal Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogya, menyatakan, kegiatan semacam ini sangat bermanfaat baginya. “Sangat dibutuhkan sekali karena kita perlu inovasi baru dalam pengelolaan sampah. Harapan saya kegiatan ini berkelanjutan sehingga inovasi kreatif  terus tumbuh dan bermunculan terutama di lapisan masyarakat bawah,” tutur ibu satu anak ini.


Hubungi Kami

ppejawa.com
Gamping Sleman Yogyakarta
Email : forum.ppej@gmail.com.com

 
Statistik Kunjungan
 
Vidio
 
GAUL

 

 
Copyright © 2015 PPEJ All Rights Reserved.